Juru Bicara BGN RI Dian Islamiati Fatwa mengatakan, pihaknya sudah melaksakan sidak di beberapa dapur yang ada di Kabupaten Lombok Tengah beberapa waktu lalu.
Sidak tersebut dalam rangka melakukan penguatan capasiti building, yang dimana, Pekerjaan dapur tersebut bukan hanya untuk membagikan makanan saja, tetapi bagaimana agar bisa menyampaikan amanah ini sampai dengan anak-anak dengan kondisi aman.
"Di Loteng ada beberapa dapur yang berpotensi ditutup dengan masalah mulai dari infrastruktur yang tidak memenuhi Syarat seperti dinding yang menggunakan triplek," Katanya kemarin. Sabtu, (14/03).
Selain itu juga, kondisi kebersihan yang penuh dengan lalat dan berpotensi untuk tutup.
"Seperti nya mitra ini tidak siap dan kalau sesuai dengan SOP atau Juknis tidak mungkin akan seperti ini,"
"Ini kondisi saat tidak beroperasi, apalagi sedang beroperasi," Ujarnya.
Ia juga melihat kondisi atap, lantai dan dinding yang tidak waterproof dan sudah berjamur sehingga menimbulkan insiden pangan yang tidak baik untuk anak-anak.
"Bahwa kami menutup untuk melindungi anak-anak Loteng," Jelasnya.
Dian juga mengungkapkan hasil sidak yang dilakukan bahwa dapur milik salah satu anggota dewan itu tidak menggunakan garam beryodum.
Dimana, kalau dapur yang tidak menggunakan garam beryodum dapat mengakibatkan stanting dan juga gondok serta perlambatan otak.
"Yang jelas sudah ada dua yang di suspek dan tidak akan berikan insentif. Tidak akan ada negosiasi, Langsung ditutup," Tegasnya.
Namun, pihaknya juga memberikan tenggat waktu selama dua minggu untuk memperbaiki kondisi dapur yang sudah menjadi catatan BGN.
"Diberikan SP1 dan yang paling parah di dapur yang ada di Deaa Bonder milik anggota DPRD,".
" Kami Tidak peduli siapapun yang punya dan akan ditutup dan tidak akan diberikan insentif," .
"Soal dapur rusak bisa diperbaiki, tapi Anak-anak yang rusak otaknya tidak bisa diperbaiki, " Lanjut nya.
Dian juga menceritakan dirinya saat datang di lokasi dapur, ia melihat terdapat golok didepan dapur dan juga begitu masuk langsung dikerubuni oleh lalat yang berkeliaran dimana-mana.
"Itu kan ada 3.300 siswa yang diberikan oleh dapur itu, apakah mau disuguhkan seperti itu. Berpotensi ditutup permanen kalau tidak ada langkah diperbaiki, " Tegasnya.
Terlebih, informasi yang diterima, dapur tersebut masih berhutang untuk membeli ompreng, padahal sejatinya sudah ada insentif yang diberikan oleh BGN setiap harinya sejumlah 6 juta.
Lebih lanjut, pihaknya langsung melaporkan hasil temuan sidak yang dilakukan kepada direktur pemantauan dan pengawasan III dengan mengatakan ditutup saja.
"Sudah saya laporkan dan diminta untuk ditutup langsung, " Pungkas nya. (NTBPost/Riki.)

Komentar0