![]() |
| Menu MBG yang diduga diterima balita dari Posyandu Menteng, Kebon Talo. Selong. |
Selong, NTBPost.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah untuk menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas gizi anak-anak kembali menuai sorotan. Seorang warga Kelurahan Kebon Talo, Kecamatan Selong, Lombok Timur, mengeluhkan kualitas makanan MBG yang diterima anaknya yang masih berusia 3,5 tahun.
Keluhan tersebut disampaikan oleh Alfani, yang juga seorang jurnalis tvOne Bali, melalui unggahan di media sosial. Ia menyebut bahwa menu MBG yang diterima anaknya terdiri dari nasi, ayam sambal, urap yang diduga sudah basi, serta empat butir anggur.
“Mau mengeluh takut dosa... Dengan menu MBG yang diterima anak saya yang berusia 3,5 tahun, dengan menu yang wajar buat orang dewasa tapi tidak wajar untuk anak kecil,” tulis Alfani dalam unggahannya.
Dikonfirmasi NTBPost.com Alfani mengaku, makanan tersebut diterima pada pukul 15.30 WITA, sementara informasi yang ia terima menyebutkan bahwa makanan telah dimasak sejak pagi hari.
“Bayangin kalau urap dibikin pagi terus diterima jam 3.30, apa nggak basi urapnya,” ujarnya. Jum'at (09/01).
Alfani juga membantah tudingan bahwa istrinya memiliki motif pribadi terhadap dapur MBG. Ia menyebut bahwa istrinya sempat difitnah ingin memasukkan bahan makanan ke dapur MBG, padahal menurutnya hal itu tidak pernah terjadi.
Paket makanan tersebut diambil oleh anaknya langsung dari Posyandu Menteng, Kebon Talo. Lokasi distribusi berada di bawah pengelolaan SPPG Sandubaya Tiga.
Menanggapi laporan tersebut, Ketua Satgas MBG NTB, Ahsanul Khalik, menyatakan bahwa pihaknya sedang menelusuri kebenaran informasi tersebut.
“Ya, sedang ditelusuri kebenarannya.” jawabnya kepada NTBPost melalui pesan singkat.
Program MBG sendiri bertujuan untuk memberikan makanan sehat dan bergizi kepada kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan menyusui. Namun, kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap kualitas dan distribusi makanan agar tujuan mulia program ini tidak tercoreng oleh pelaksanaan di lapangan. (NTBPost/red.)

Komentar0