Gpd8TfAlBUYoTfM6TUAlTUAlTA==

Catatan Redaksi: Menolak Kereta Gantung, Menjaga Rinjani sebagai Geopark Dunia

Sikap ekologis, sosial, dan moral yang harus dipahami

Gunung Rinjani terlihat dari atas bukit kondo. Foto: NTBPOST.COM

NTBPOST.COM - Gunung Rinjani adalah mahkota alam Nusa Tenggara Barat, bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang hidup, ruang spiritual, sekaligus simbol ekologis yang telah diakui dunia melalui status UNESCO Global Geopark. Ketika Pemerintah Provinsi NTB, melalui Gubernur Lalu Muhamad Iqbal, menolak investasi pembangunan kereta gantung senilai Rp6,7 triliun, keputusan itu bukan sekadar kebijakan administratif. Ia adalah sikap politik, ekologis, dan moral untuk menjaga warisan dunia agar tidak tergadai oleh ambisi komersial jangka pendek.  


Mengapa Penolakan Ini Penting

Kereta gantung memang tampak menjanjikan dari sisi aksesibilitas. Wisatawan yang tidak mampu mendaki bisa dengan mudah mencapai titik tertentu. Investor pun mengklaim akan ada lonjakan kunjungan wisatawan dan dampak ekonomi. Namun, klaim ini harus diuji dengan pertanyaan mendasar: apakah kita ingin menjadikan Rinjani sekadar wahana komersial instan, atau mempertahankannya sebagai ikon konservasi dunia?  


Risiko Ekologi dan Konservasi

Pembangunan kereta gantung berarti membuka jalur baru, membangun tiang pancang, stasiun, dan infrastruktur pendukung di kawasan hutan. Dampaknya adalah fragmentasi habitat satwa, gangguan hidrologi, dan potensi longsor.  

- Kajian IUCN (Tourism in Protected Areas: Guidelines for Sustainability, Eagles et al., 2002) menegaskan bahwa pembangunan fasilitas besar di kawasan konservasi harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Kereta gantung jelas melampaui batas itu.  


Ancaman terhadap Masyarakat Lokal

Rinjani adalah ruang hidup masyarakat sekitar. Ekonomi lokal tumbuh dari ekowisata: pemandu pendakian, porter, homestay, hingga usaha kecil berbasis komunitas. Kereta gantung akan menggeser peran mereka, membuat wisatawan melewati jalur tradisional tanpa interaksi dengan masyarakat.  

- UNESCO Global Geoparks Guidelines (2016) menekankan bahwa keterlibatan masyarakat lokal adalah kunci keberlanjutan geopark. Jika masyarakat tersisih, maka geopark kehilangan ruhnya.  


Geopark sebagai Warisan Dunia

Status geopark bukan sekadar label, melainkan pengakuan atas keseimbangan antara konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan. Kereta gantung berpotensi mengubah orientasi Rinjani dari ekowisata edukatif menjadi pariwisata massal instan.  

- Buckley (2012) dalam Sustainable Tourism and Natural Protected Areas menegaskan bahwa pariwisata berkelanjutan harus menjaga kualitas pengalaman, bukan sekadar kuantitas kunjungan.  


Catatan Redaksi

Menolak kereta gantung bukan berarti menolak pariwisata. Justru sebaliknya, ini adalah upaya menjaga agar pariwisata Rinjani tetap berkelanjutan, memberi manfaat bagi masyarakat, dan melestarikan alam. Yang lebih mendesak adalah memperkuat jalur pendakian, meningkatkan kapasitas pemandu lokal, memperbaiki fasilitas dasar, serta memperluas edukasi wisata berbasis konservasi.  


Kesimpulan

Keputusan Gubernur NTB menolak investasi kereta gantung adalah langkah tepat. Ia menegaskan bahwa Rinjani bukan komoditas wisata instan, melainkan ikon konservasi dunia. Kita harus memilih: apakah ingin menjadikan Rinjani sekadar wahana komersial, atau mempertahankannya sebagai geopark yang lestari, bermartabat, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.  


Sumber Kajian Ilmiah:  

- Eagles, P.F.J., McCool, S.F., Haynes, C.D. (2002). Tourism in Protected Areas: Guidelines for Sustainability. IUCN.  

- Buckley, R. (2012). Sustainable Tourism and Natural Protected Areas. CAB International.  

- UNESCO Global Geoparks Guidelines (2016). UNESCO Publishing.  

Komentar0

Type above and press Enter to search.