Gpd8TfAlBUYoTfM6TUAlTUAlTA==

Kadus Montong Sager Ungkap Motiv Resedivis Narkoba Aniaya Ayah Kandung Gara-Gara Uang Hingga Tewas

Kadus Montong Sager ungkap permintaan uang Rp25 juta, konflik lama, dan riwayat kelam pelaku

LOMBOK BARAT, NTBPOST.COM — Tragedi memilukan di Dusun Montong Sager, Desa Tamansari, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat. Seorang ayah, Rahmat Safewarsa (67), tewas setelah dianiaya anak kandungnya, Yohan Agustin alias Yoan (37), yang diketahui merupakan seorang resedivis kasus narkoba.  

Kepala Dusun Montong Sager, Haeri, dalam wawancara dengan NTBPOST.COM  mengungkap kronologi panjang sejak subuh hingga korban dinyatakan meninggal dunia di Puskesmas Gunungsari.  


Kronologi Peristiwa

Haeri menjelaskan bahwa pertengkaran sudah terdengar sejak dini hari.  

“Sejak subuh tetangga mendengar anak ini teriak-teriak mencaci maki bapaknya karena minta uang untuk makan. Bapaknya bilang belum ada uang, dari situ mulai ribut,” ujarnya, pada Minggu (19/04),

Sekitar pukul 07.30 Wita, korban sempat ke kebun di sebelah utara rumahnya. Ia pulang membawa kantong plastik berisi sayur-mayur untuk sarapan.  

“Jam setengah delapan dia pulang, sempat ngobrol dengan tetangga. Katanya baru dari kebun, bawa sayur untuk sarapan,” jelas Haeri.  

Situasi rumah sempat tenang, namun sekitar pukul 10.30 Wita pertengkaran kembali pecah.  

“Cekcok lagi di kebun, pelaku mengaku mencakar wajah bapaknya, memukul bagian kepala, lalu mendorong hingga korban terbentur tembok. Setelah itu korban jatuh dan tidak sadarkan diri. Ada darah di hidungnya, diduga akibat benturan,” ungkapnya.  

Korban kemudian dibawa warga menggunakan mobil bak terbuka ke Puskesmas Gunungsari. Namun tenaga medis menyatakan korban sudah meninggal dunia sebelum sempat mendapat penanganan lebih lanjut.  


Permintaan Uang Rp25 Juta

Haeri menuturkan bahwa konflik soal uang bukan kali pertama terjadi.  

“Pernah minta Rp25 juta, katanya uang itu dipakai bapaknya. Tapi setelah saya tanya ke adiknya, tidak ada bukti. Dulu memang Yohan sering memberi uang harian ke bapaknya, sekitar Rp50 ribu sampai Rp100 ribu, itu yang ditagih kembali,” ungkapnya.  

Permintaan uang tersebut bahkan sempat dimediasi di kantor desa bersama Babinsa dan Babinkamtibmas.  

“Waktu mediasi, bapaknya bilang kalau memang anaknya menuntut uang itu, akan diusahakan. Bahkan sempat menyebut kalau perlu menjual rumah untuk memenuhi permintaan. Tapi jelas bukan saat itu juga,” tambah Haeri.  


Riwayat Resedivis dan Perilaku Bermasalah

Haeri mengungkap bahwa pelaku memiliki riwayat kelam.  

“Dia pernah masuk penjara sekitar empat tahun lebih karena kasus narkoba. Sejak keluar penjara, perilakunya berubah. Kadang malam-malam keluar rumah, teriak-teriak di bukit, bahkan pernah membakar pakaian bapaknya,” katanya.  

Pelaku juga diketahui pernah menikah singkat di Ampenan sekitar tahun 2010, namun rumah tangganya berakhir setelah satu tahun. Sejak itu, ia kembali ke rumah orang tuanya.  


Kondisi Ekonomi dan Sosial Keluarga

Menurut Haeri, keluarga korban hidup dalam kondisi ekonomi menengah ke bawah.  

“Secara umum ekonomi keluarga memang kurang. Pelaku tidak punya pekerjaan jelas, kadang hanya keluar tiga hari sekali. Itu juga sering jadi masalah di rumah,” ujarnya.  

Haeri menambahkan bahwa pelaku sering merasa tidak diterima oleh lingkungan sekitar.  

“Dia sering bilang merasa dibenci tetangga. Pernah juga teriak-teriak di bukit, katanya ada suara yang memanggil namanya. Itu membuat warga resah,” jelasnya.  


Penanganan Kasus

Kasus ini kini ditangani Polresta Mataram dengan pemeriksaan saksi, pengumpulan barang bukti, dan pendalaman motif. Polresta menegaskan akan menindaklanjuti secara profesional sesuai hukum yang berlaku.  

Tragedi ini menjadi pengingat betapa rentannya konflik keluarga ketika tekanan ekonomi, riwayat kriminal, dan masalah pribadi tidak terselesaikan. (NTBPost/red.) 

Komentar0

Type above and press Enter to search.