Gpd8TfAlBUYoTfM6TUAlTUAlTA==

“Metu Telu: Nafas Harmoni di Tanah Sasak” - Integrasi Budaya dalam Pelayanan Publik

Oleh: Dr. Ahsanul Khalik


Banyak Desa di Lombok masih mempertahankan warisan budaya dan adat istiadat masyarakat Sasak. Dalam keyakinan Sasak, konsep Metu Telu yang bermakna “muncul dari tiga,”  melambangkan dua hal penting sekaligus: tiga jalan reproduksi kehidupan dan tiga fase siklus manusia (lahir - hidup - mati). Metu Telu digambarkan sebagai kelahiran kehidupan lewat tiga cara (mentioq/berbenih, mentelok/bertelur, menganak/beranak), serta melalui rangkaian lahir, hidup, dan mati. Falsafah kosmologis ini menegaskan bahwa manusia terikat erat dengan leluhur, sesama, dan alam. Kepercayaan lama ini kemudian diadaptasi dengan ajaran Islam lokal (Wetu Telu) dan menjadi landasan moral bagi orang Sasak.


Secara antropologis, Metu Telu tidak sekedar menggambarkan fase biologi manusia, melainkan asal-usul seluruh kehidupan. Metu Telu mengajarkan bahwa segala makhluk hidup “muncul” ke dunia melalui tiga sistem reproduksi: menioq (tunas/biji), mentelok (telur), dan menganak (melahirkan). Pendekatan ini memberi dimensi kosmologis pada Metu Telu, ia menjelaskan bagaimana jiwa lahir, dijaga, dan kembali ke alam. Misalnya, penelitian lintas budaya mencatat bahwa Wetu Telu memandang adanya tiga pintu masuk kehidupan, bukti kebesaran Tuhan dalam mekanisme kehidupan. Konsep ini selaras dengan siklus hidup umat manusia: setiap orang melewati tiga tahap utama (lahir, hidup, mati), yang dirayakan lewat ritual adat (ngurisang bayi, pernikahan, dan kematian).


Metu Telu pun terakulturasi secara historis. Sebelum Islam, masyarakat Sasak mengenal agama lokal Boda bercampur animisme dan Hindu-Buddha. Masuknya kerajaan Majapahit membawa pengaruh Hindu-Buddha ke Lombok, diikuti dakwah Islam oleh para wali dari Jawa dan Sulawesi Selatan abad ke-16. Islamisasi di Lombok berlangsung bertahap: Metu Telu sebagai bahasa kearifan lokal digabungkan dengan ajaran Islam lokal (Wetu Telu). Bukti lapangan menunjukkan penduduk Bayan, misalnya, tetap mempertahankan simbol “tiga” dalam ibadah: mereka menunaikan salat lima waktu sebagaimana Islam umum, namun salat Jumat khusus hanya sebanyak tiga waktu (Subuh, Magrib, Isya), dan berpuasa hanya tiga hari tertentu dalam sebulan. Dengan demikian, Metu Telu menjadi kerangka kosmologis bawaan Sasak, sementara Wetu Telu adalah bentuk praksis keislamannya yang menyerap nilai-nilai tersebut.


Bahasa dan identitas budaya Sasak adalah media penting mentransmisikan nilai Metu Telu. Mahyuni (2007) dan Mulyadi (2014) menekankan bahwa bahasa daerah, ritual, dan sastra Sasak membentuk kesadaran kolektif dan identitas Gumi Sasak. Banyak riset modern (misalnya studi Kemidi Rudat dan tradisi Presean) menunjukkan warisan nilai Sasak berupa kepatuhan adat, gotong-royong, penghormatan alam yang masih dijunjung tinggi sebagai pedoman bermasyarakat. Di sinilah Metu Telu berperan sebagai falsafah pusat: ia mengajarkan bahwa kehidupan individu tidak terpisah dari leluhur, masyarakat, dan alam sekitarnya.


Aplikasi Metu Telu dalam Konteks Modern NTB: Kebijakan Publik Berbasis Kearifan Lokal


Pertunjukan musik tradisional Sasak sering ditampilkan dalam acara budaya seperti Pesona Budaya Pengadangan, yang tahun 2025 mengusung tema “Metu Telu: Nafas Harmoni di Tanah Sasak”. Di lombokpost, Wakil Bupati Lotim memuji integrasi layanan publik dalam festival ini: acara ini menyediakan cek kesehatan gratis dan layanan administrasi kependudukan (pembuatan KTP, KK, akta kelahiran) secara terpadu. Bahkan pembuatan akta kematian, pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan, hingga donor darah diselenggarakan di lokasi acara. Gambaran seperti ini menunjukkan Metu Telu dimanfaatkan sebagai narasi kebijakan: budaya bukan sekadar hiburan, melainkan kerangka untuk mendekatkan pelayanan pemerintah dengan nilai spiritual.


Secara konseptual, Metu Telu memberi dimensi spiritual-etis, sosial, dan ekologis pada tata kelola publik. Layanan publik dipandang sebagai amanah (tanggung jawab ilahi) sehingga pelayanan yang baik adalah ibadah (dimensi hubungan manusia - Tuhan). Dalam aspek sosial, kebijakan diarahkan memperkuat gotong-royong dan solidaritas sebagai ciri kental budaya Sasak. Misalnya, program berbasis masyarakat seperti posyandu keluarga, pendampingan kelompok rentan, atau pemberdayaan UMKM terinspirasi nilai metu telu tentang saling menghormati dan tolong-menolong. Kebijakan ekologis menitikberatkan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan: spatial planning pro-konservasi, pengakuan hutan adat, perlindungan mata air dan pesisir sebagai bagian dari kewajiban agama. Warga diajak memahami bahwa “siapa merusak alam, ia merusak keseimbangan hidupnya sendiri,” jadi rehabilitasi hutan, pertanian organik, dan mitigasi bencana tak hanya teknis, tetapi juga implementasi moral lokal. Dengan begitu, Metu Telu dapat merumuskan visi pemerintahan “Religius - Maju - Berbudaya” dan mendorong program pembangunan yang bersinergi dengan kearifan Sasak.


Pendidikan Budaya dan Moderasi Beragama


Metu Telu juga diangkat sebagai bahan muatan lokal dalam pendidikan untuk mengembangkan moderasi dan karakter. Di sekolah dan pesantren Lombok, nilai-nilai Sasak seperti tanggung jawab sosial, toleransi, dan etika lingkungan diajarkan melalui kegiatan ekstrakurikuler tradisi (tari Rudat, Presean, pameran budaya). Dalam kurikulum pesantren, Metu Telu dijelaskan sebagai falsafah hidup yang selaras dengan maqasid shariah (tujuan syariah) - misalnya, pelestarian agama (ḥifẓ ad-dīn), jiwa (ḥifẓ an-nafs), dan lingkungan (ḥifẓ al-mal dan al-ʿaql). 


Di sekolah umum, cerita Metu Telu diajarkan untuk memperkuat karakter: misalnya, melalui pelajaran muatan lokal anak-anak belajar bahwa hubungan manusia - Tuhan (ibadah, do'a) dan manusia - alam (penghormatan tanah dan air) adalah satu paket nilai. Pendekatan berbasis budaya ini penting dalam konteks moderasi: Metu Telu menjadi “bahasa budaya” yang menginternalisasi nilai universal (kehidupan, hak anak, kepedulian lingkungan) tanpa terkesan menggurui agama. Dengan demikian, anak-anak Sasak tidak hanya belajar ritual adat, tetapi juga filosofi yang menghubungkan spiritualitas dan etika sosial secara harmonis.


Pembangunan Berkelanjutan dan Ekologis


Aktivitas seperti menenun di alam terbuka mencerminkan hubungan erat masyarakat Sasak dengan lingkungannya. Filosofi Metu Telu secara ekologis menempatkan manusia sebagai bagian siklus alam, bukan penguasa alam. Sebagaimana dinyatakan dalam publikasi AMAN, Tuhan menciptakan alam untuk dikelola manusia; jika alam dirusak, bencana datang sebagai azab. Prinsip ini kini diadaptasi dalam pembangunan NTB. Misalnya, program rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS), penanaman pohon, dan pengelolaan agraria berkelanjutan dikomunikasikan sebagai “penjagaan titipan leluhur”. Masyarakat diajak melihat deforestasi atau over-ekploitasi lahan sebagai pelanggaran tatanan spiritual: bukannya sekedar permasalahan teknis, rusaknya ekosistem adalah buntut pergeseran budaya yang menghargai keselarasan manusia dengan alam.


Implikasi Metu Telu dalam pangan dan mitigasi juga nyata. Prinsip pemuliaan siklus kehidupan menguatkan praktik pertanian organik dan agroforestry tradisional yang menganggap tanaman dan ternak sebagai bagian komunal, bukan sekedar komoditas. Di NTB, narasi lokal ini digunakan untuk menggalakkan kedaulatan pangan desa dan program pelatihan pertanian organik, terutama di kalangan generasi muda Sasak. Dalam mitigasi bencana dan adaptasi iklim, pesan Metu Telu dipadukan dalam komunikasi risiko: banjir atau longsor tidak hanya disebabkan faktor alam, tetapi juga akibat manusia melupakan harmoni yang diajarkan adat. Oleh karena itu, prinsip Metu Telu dijadikan landasan nilai dalam perencanaan wilayah (RZWP3K, RTRW) dan edukasi kebencanaan, menegaskan bahwa melindungi alam adalah bagian dari pengabdian spiritual dan sosial.


Metu Telu membantu masyarakat Sasak memaknai hidup sebagai siklus kesadaran yang holistik, menghubungkan aspek religius, sosial, dan ekologis. Konsep ini lahir dari tradisi lokal lalu berakulturasi dengan Hindu-Buddha dan Islam, serta direvitalisasi lewat praktik kontemporer. Dengan dikemas dalam acara budaya dan pendidikan, Metu Telu menjadi bahasa budaya untuk menyampaikan nilai-nilai keberlanjutan, kemanusiaan, dan keseimbangan. Integrasi konsep Metu Telu dalam pelayanan publik (seperti yang terlihat pada Pesona Budaya Pengadangan) menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat menyuburkan tata-kelola yang berbudaya. Sebagai kerangka etika kosmologis, Metu Telu mengajarkan bahwa membangun manusia tidak bisa terpisah dari tanggung jawab kepada Tuhan, masyarakat, dan alam - transformasi nilai lama yang relevan untuk membentuk kebijakan dan kesadaran publik di NTB masa kini.

Komentar0

Type above and press Enter to search.