Oleh: H. Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, S.Sos., M.H. - Sekjen Himpunan Alumni Al-Aziziyah (HUPPAZ) Cabang Kabupaten Lombok Timur
Ada sebuah pesan sederhana yang kerap dituturkan oleh para tetua Sasak:
“Ndak lupa mbe lekan ta idup dait ndak lupa sai ngebeng ite idup.”
Kurang lebih, dalam bahasa Indonesia, ungkapan tersebut bermakna, “Jangan lupa dari mana kita berasal dan jangan lupa siapa yang memberi kita kehidupan.”
Sekilas, pesan itu terdengar sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan filosofi kehidupan yang mendalam: tentang asal-usul, kesadaran diri, penghargaan terhadap jasa orang lain, serta kewajiban moral untuk tidak melupakan mereka yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup kita.
Sesungguhnya, setiap manusia memiliki tempat yang turut membentuk dirinya. Ada ruang tempat ia mengenal ilmu, menumbuhkan kesadaran, menempa karakter, dan belajar memahami kehidupan. Seiring waktu, manusia tumbuh, menempuh jalan yang berbeda, serta menggapai berbagai pencapaian. Namun, sejauh apa pun perjalanan itu membawa seseorang, perubahan keadaan dan kedudukan tidak semestinya menghapus ingatan terhadap tempat dan orang-orang yang telah memberikan bekal bagi pertumbuhannya.
Sebab, kedewasaan bukan hanya tentang kemampuan melangkah jauh, melainkan juga tentang kesanggupan mengingat dengan penuh penghormatan dari mana langkah itu bermula.
Di sinilah pendidikan menemukan maknanya yang hakiki. Kita pernah datang sebagai seseorang yang belum banyak mengetahui, kemudian belajar mengenal huruf, membaca kitab, memahami ilmu pengetahuan, menyelami nilai-nilai kehidupan, serta membangun cara pandang terhadap dunia. Di tempat itu pula, ada guru yang dengan ketulusan, kesabaran, dan pengabdian membimbing kita. Tidak semua pelajaran mereka langsung kita pahami saat itu. Bahkan, ada nasihat yang baru terasa kedalaman maknanya setelah kita melewati berbagai pengalaman kehidupan.
Dalam tradisi pesantren, proses pendidikan tidak semata-mata dimaksudkan untuk mentransfer pengetahuan. Ia merupakan ikhtiar membentuk manusia yang berilmu sekaligus beradab. Ilmu dan adab tidak dipisahkan, sebab ilmu tanpa adab berisiko kehilangan arah, sementara adab menjadi jalan bagi ilmu untuk menghadirkan kemaslahatan. Dari sinilah lahir kesadaran bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari apa yang diketahui seseorang, tetapi juga dari bagaimana ia bersikap, bertutur, dan memperlakukan sesama.
Sayangnya, dalam perjalanan kehidupan, tidak jarang hubungan seseorang dengan tempat ia pernah menimba ilmu perlahan merenggang. Setelah menyelesaikan pendidikan, melanjutkan perjalanan, memperoleh pekerjaan, membangun kehidupan, atau mencapai kedudukan tertentu, almamater terkadang hanya tinggal nama dalam riwayat hidup dan kenangan dalam ingatan. Padahal, nilai-nilai yang pernah ditanamkan semestinya tidak berhenti sebagai kenangan, melainkan terus tumbuh dan berbuah dalam kehidupan nyata.
Menjadi alumni bukan sekadar pengakuan bahwa kita pernah belajar di suatu lembaga pendidikan. Lebih dari itu, menjadi alumni adalah kesediaan untuk memikul tanggung jawab moral dalam menjaga, menghidupkan, dan meneruskan nilai-nilai kebaikan yang pernah diwariskan.
Pendidikan tidak berakhir ketika seseorang menerima ijazah, meninggalkan ruang kelas, atau menamatkan masa pengabdiannya sebagai santri. Justru, setelah semua itu, pendidikan memasuki ruang pembuktian yang sesungguhnya: ketika ilmu diwujudkan dalam tindakan, adab tercermin dalam perilaku, dan nilai-nilai kebaikan hadir dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam khazanah keilmuan Islam, penghormatan kepada guru (ta'zhim al-mu'allim) dan pemuliaan terhadap ilmu merupakan bagian penting dari perjalanan seorang penuntut ilmu. Relasi antara murid dan guru bukan semata-mata hubungan akademis, melainkan juga ikatan moral dan spiritual yang mengandung nilai penghormatan, keteladanan, serta keberkahan.
Ilmu sejatinya tidak menjadikan seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, semakin luas pengetahuan yang dimiliki, semakin dalam pula semestinya kesadaran akan keterbatasan diri. Semakin tinggi pencapaian seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga kerendahan hati. Dalam semangat inilah, keberhasilan seharusnya tidak menjauhkan seseorang dari akar pembentukannya, melainkan semakin mendekatkannya pada kesadaran untuk bersyukur, berkhidmah, dan memberi manfaat.
Pemikiran ini menjadi relevan untuk direnungkan dalam momentum Milad ke-41 Pondok Pesantren Al-Aziziyah Kapek. Empat puluh satu tahun bukan sekadar bilangan yang menandai bertambahnya usia sebuah lembaga pendidikan. Di dalamnya tersimpan sejarah panjang pengabdian, perjuangan para pendiri, ketulusan para guru, dinamika kehidupan santri, serta ikhtiar berkelanjutan dalam menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan.
Selama perjalanan itu, telah lahir dan tumbuh berbagai generasi yang kini menapaki kehidupan dengan peran dan tanggung jawab masing-masing. Ada yang menjadi pendidik, akademisi, pengusaha, tokoh masyarakat, aparatur negara, dan menekuni beragam profesi lainnya. Mereka menempuh jalan yang berbeda, menghadapi tantangan yang beragam, serta mengukir keberhasilan dengan cara masing-masing.
Namun, di balik keragaman perjalanan tersebut, semestinya tetap ada satu ikatan yang menyatukan: kesadaran bahwa kita pernah tumbuh dari lingkungan pendidikan yang sama, memperoleh bekal dari sumber keilmuan yang sama, dan menjadi bagian dari sejarah yang sama. Ikatan itu bukan untuk membatasi langkah, melainkan untuk menjaga kesinambungan nilai dan memperkuat rasa persaudaraan.
Menghargai almamater pun tidak harus selalu diwujudkan melalui kehadiran fisik atau seberapa sering seseorang kembali berkunjung. Penghormatan dapat hadir dalam bentuk yang lebih substantif: menjaga nama baik lembaga, memelihara hubungan dengan para guru, menguatkan persaudaraan antar alumni, serta menghadirkan nilai-nilai pendidikan dalam setiap ruang pengabdian.
Di mana pun berada, seorang alumni memiliki kesempatan untuk menjadi representasi nilai-nilai yang pernah diterimanya. Dalam lingkungan keluarga, ia dapat menjadi teladan. Dalam pekerjaan, ia dapat menegakkan integritas. Dalam kehidupan sosial, ia dapat menebarkan kepedulian. Dalam ruang pengambilan keputusan, ia dapat menghadirkan kebijaksanaan dan keberpihakan pada kemaslahatan. Dengan demikian, penghormatan terhadap almamater tidak berhenti pada simbol dan seremoni, tetapi menjelma menjadi kontribusi nyata bagi kehidupan.
Pada akhirnya, perjalanan hidup bukan semata-mata tentang seberapa jauh seseorang berhasil melangkah, seberapa tinggi kedudukan yang diraih, atau seberapa banyak pencapaian yang dikumpulkan. Lebih dari itu, perjalanan hidup adalah tentang bagaimana seseorang menjaga nilai-nilai yang membentuk dirinya, merawat hubungan dengan orang-orang yang berjasa, dan tetap memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa keberhasilan tidak pernah sepenuhnya lahir dari usaha sendiri.
Maka, pada usia ke-41 Pondok Pesantren Al-Aziziyah Kapek, ada pesan yang patut kita renungkan bersama: jangan sampai keberhasilan membuat kita lupa pada asal-usul; jangan sampai ilmu mengikis kerendahan hati; jangan sampai kedudukan menjauhkan kita dari penghormatan; dan jangan sampai jauhnya perjalanan memutus silaturahmi dengan mereka yang pernah berjasa.
Sebab, di balik setiap langkah yang kita tempuh hari ini, ada tempat kita pernah bertumbuh, ada guru yang pernah membimbing, ada doa yang mengiringi, dan ada nilai-nilai yang semestinya terus kita hidupkan.
Selamat Milad ke-41 Pondok Pesantren Al-Aziziyah Kapek.
Semoga senantiasa menjadi taman persemaian ilmu, tempat bertumbuhnya adab dan akhlak mulia, serta sumber lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas dan berilmu, tetapi juga tawaduk, berintegritas, berjiwa khidmah, dan senantiasa membawa kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan kehidupan.
Barakallahu fi umrihi wa fi khidmatihi. Semoga keberkahan senantiasa menyertai setiap langkah dan pengabdiannya.

Komentar0