Komunitas Lupus Lombok Perkuat Edukasi dan Dukungan
MATARAM, NTBPOST.COM — Bale Kupu Komunitas Lupus Lombok menggelar kegiatan sharing session bertajuk Kawan Bale Kupu Bertanya, Rheumatologist Menjawab pada Minggu (11/10/2026) di Bebek Pondok Galih, Mataram. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.00 WITA ini menjadi ruang bagi orang dengan lupus (Odapus) untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, serta memperoleh informasi kesehatan langsung dari dokter konsultan reumatologi.
Acara menghadirkan dr. I.A Ratih Manuaba, Sp.PD-KR, sebagai narasumber dengan moderator dr. Hendra Ikhwan Gautama, Sp.PD. Diskusi berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif, memberikan kesempatan kepada para peserta untuk menyampaikan pertanyaan, berbagi pengalaman, serta memahami berbagai aspek kehidupan dengan lupus berdasarkan informasi medis yang tepat.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 40 peserta yang merupakan Kawan Bale Kupu dari berbagai wilayah di Pulau Lombok. Peserta tidak hanya berasal dari Kota Mataram, tetapi juga dari Kabupaten Lombok Timur. Kehadiran peserta lintas wilayah ini menunjukkan antusiasme para penyandang lupus untuk terus belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat dukungan satu sama lain dalam menjalani kehidupan bersama lupus.
Kehadiran dr. Ratih menjadi momen yang sangat dinantikan oleh Kawan Bale Kupu. Menurut Yung Aulia Warastit, Ketua Bale Kupu, kehadiran dokter konsultan reumatologi memiliki arti penting bagi para penyandang lupus di Nusa Tenggara Barat (NTB), mengingat akses terhadap layanan konsultan reumatologi di daerah ini masih menjadi tantangan.
“Kami memiliki banyak pertanyaan tentang lupus, mulai dari memahami kondisi penyakit, mengenali tanda-tanda kekambuhan, hingga bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik. Kesempatan untuk berdiskusi dan mendapatkan penjelasan langsung dari dokter konsultan reumatologi merupakan hal yang sangat berharga bagi kami,” ungkap Yung Aulia.
Menurutnya, komunitas tidak hanya menjadi tempat bagi para Odapus untuk berbagi cerita dan pengalaman, tetapi juga berperan penting dalam memperkuat pemahaman tentang penyakit yang mereka hadapi. Dukungan tenaga kesehatan melalui edukasi yang tepat diharapkan dapat membantu Odapus mengambil keputusan yang lebih baik terkait perawatan dan pengelolaan penyakitnya.
Dalam sesi diskusi, dr. Ratih turut membagikan sejumlah tips bagi Odapus untuk menjalani kehidupan bersama lupus dan mengupayakan kondisi penyakit yang lebih terkendali. Menurutnya, pengelolaan lupus tidak hanya berkaitan dengan pengobatan medis, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap diri sendiri secara menyeluruh, baik dari sisi pikiran, perasaan, maupun kondisi fisik.
“Odapus perlu belajar menerima kondisi yang dihadapi, memahami keterbatasan tubuh, serta tetap menghargai diri sendiri. Menerima kondisi bukan berarti menyerah, melainkan menjadi langkah untuk menjalani kehidupan dengan lebih positif dan realistis,” jelas dr. Ratih.
Ia menambahkan bahwa kedisiplinan dalam menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter, melakukan kontrol kesehatan secara berkala, serta bertanggung jawab terhadap pilihan gaya hidup merupakan bagian penting dalam pengelolaan lupus.
“Odapus juga perlu memberikan perhatian terhadap kesehatan mental dan emosional, mengelola stres, mengenali batas kemampuan tubuh, serta menjaga keseimbangan antara aktivitas dan istirahat,” katanya.
Dr. Ratih turut mengingatkan pentingnya gaya hidup sehat dengan memperhatikan 5P, yakni penyedap, perasa, pengawet, pengembang, dan pewarna. Menurutnya, Odapus harus lebih cermat memilih makanan dan membiasakan pola makan bergizi seimbang.
“Selain itu, pengendalian diri juga menjadi hal penting. Odapus perlu belajar mengatur aktivitas sesuai kondisi tubuh dan tidak memaksakan diri ketika tubuh membutuhkan istirahat. Mengenali kebutuhan diri dan mengambil keputusan secara bijak merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas hidup,” ujarnya.
Kelima pesan tersebut mengingatkan bahwa menjalani kehidupan dengan lupus membutuhkan kesabaran, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap diri sendiri. Upaya mencapai remisi atau kondisi ketika aktivitas penyakit terkendali tetap memerlukan pengobatan yang tepat, pemantauan kesehatan secara berkala, serta kerja sama yang baik antara pasien dan dokter.
Para penyandang lupus juga diingatkan untuk tidak mengubah atau menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter, sekalipun kondisi tubuh dirasakan sudah membaik. Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda sehingga penanganan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Lupus merupakan penyakit autoimun kronis dengan manifestasi yang beragam pada setiap individu. Perjalanan penyakit yang tidak selalu dapat diprediksi, risiko kekambuhan atau flare, serta tantangan dalam menjalani aktivitas sehari-hari membuat penyandang lupus membutuhkan bukan hanya penanganan medis, tetapi juga dukungan emosional dan lingkungan yang memahami kondisi mereka.
Karena itu, sharing session ini tidak sekadar menjadi forum tanya jawab, tetapi juga ruang aman bagi para Odapus untuk menyampaikan kegelisahan, bertukar pengalaman, dan saling menguatkan. Suasana kebersamaan yang terbangun diharapkan dapat menumbuhkan semangat bagi para peserta untuk terus menjalani kehidupan dengan optimisme.
Bagi Bale Kupu Komunitas Lupus Lombok, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan untuk menjadi ruang edukasi, pendampingan, dan solidaritas bagi penyandang lupus. Kolaborasi antara komunitas dan tenaga kesehatan diharapkan dapat memperkuat literasi kesehatan sekaligus mendorong peningkatan akses terhadap informasi dan layanan yang dibutuhkan Odapus di NTB. (*)

Komentar0