Mahasiswa Universitas Brawijaya bawa metode belajar interaktif ke ruang kelas pelosok Lombok Utara.
LOMBOK UTARA, NTBPOST.COM —Suasana ruang kelas di SDN 2 Bayan dan SMPN 6 Bayan mendadak berbeda selama enam hari. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai sahabat baru bagi para siswa. Melalui program FISIP Bakti Desa, mereka menggelar kegiatan FISIP Mengajar yang menghadirkan pengalaman belajar interaktif di pelosok Lombok Utara.
Materi yang dibawakan pun dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa: tentang cita-cita, kesadaran diri (self-awareness), bullying, hingga edukasi seksual. Semua dikemas dengan cara yang sederhana, penuh permainan, diskusi, dan refleksi di akhir sesi. Metode ini membuat siswa lebih mudah memahami sekaligus merasa nyaman untuk berbagi cerita.
“Harapan kami FISIP Mengajar yang kami hadirkan di SDN 2 dan SMPN 6 Bayan dapat menjadi program yang bermanfaat untuk seluruh warga sekolah dan dapat meningkatkan motivasi adik-adik untuk terus belajar sampai tingkat pendidikan tertinggi agar mampu menggapai cita-cita yang mereka impikan,” ujar Ghaida, koordinator sektor pendidikan. Pada, Sabtu (22/08).
Kehadiran mahasiswa membuat suasana belajar lebih cair. Anak-anak yang biasanya kaku di kelas, kini terlihat antusias. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif berdiskusi, bermain, bahkan bercanda dengan para mahasiswa. Hubungan yang terjalin membuat kegiatan ini terasa lebih seperti pertemuan keluarga besar daripada sekadar proses belajar mengajar.
Materi bullying menjadi salah satu sesi yang paling menyentuh. Siswa diajak mengenali bentuk perundungan, dampaknya, serta langkah yang bisa dilakukan jika menjadi korban atau saksi. Sementara itu, materi edukasi seksual dikemas dengan pendekatan sesuai usia, sehingga tetap informatif tanpa menimbulkan rasa canggung.
Pihak sekolah pun menyambut baik kegiatan ini. Kepala sekolah dan guru di SDN 2 Bayan serta SMPN 6 Bayan memberikan dukungan penuh, bahkan ikut mendampingi beberapa sesi. Mereka menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa FISIP UB yang menghadirkan warna baru dalam proses belajar di sekolah.
Evaluasi dilakukan setiap hari oleh sektor pendidikan untuk melihat respons siswa. Hasil evaluasi ini kemudian menjadi bekal untuk menyesuaikan materi di hari berikutnya. Dengan begitu, pembelajaran tidak hanya mengikuti rancangan awal, tetapi benar-benar menyesuaikan dinamika kelas.
Lebih dari sekadar ruang kelas, FISIP Mengajar menjadi ruang pertemuan, bermain, dan bertumbuh bersama. Program ini menunjukkan bahwa pendidikan bisa hadir dengan cara yang lebih menyenangkan, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan tetap sarat makna. (NTBPost/red.)

Komentar0