Gpd8TfAlBUYoTfM6TUAlTUAlTA==

Musda HKTI: Gubernur Miq Iqbal Tawarkan Model Pertanian ala FELDA Malaysia

Transformasi sektor pertanian NTB melalui konsolidasi lahan terinspirasi dari keberhasilan FELDA Malaysia.

MATARAM, NTBPOST.COM — Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menawarkan model baru pengelolaan pertanian melalui konsolidasi lahan ala FELDA Malaysia saat menghadiri Musda IX HKTI NTB di Mataram, Minggu (2/8/2026).

Gubernur menegaskan bahwa sektor pertanian tetap menjadi fondasi utama pembangunan ekonomi NTB. Pembangunan pertanian tidak cukup hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga harus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

"Capaian ini menunjukkan bahwa secara ekonomi usaha pertanian semakin menjanjikan. Ini menjadi sinyal positif bagi generasi muda bahwa pertanian merupakan sektor yang memiliki prospek baik. Bahkan bagi lembaga keuangan, sektor pertanian menjadi sektor yang layak mendapatkan dukungan pembiayaan karena memiliki prospek yang semakin baik," ujar Miq Iqbal.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sekitar 70 persen petani NTB merupakan petani gurem dengan kepemilikan lahan sempit. Kondisi ini membuat biaya produksi tinggi dan pendapatan petani belum optimal.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Gubernur menawarkan pendekatan baru melalui pengelolaan lahan kolektif terinspirasi dari FELDA Malaysia. Ia menceritakan pengalamannya saat mengunjungi FELDA dan melihat bagaimana lembaga tersebut berhasil mentransformasi kawasan pertanian melalui konsolidasi lahan dan tata kelola terintegrasi.

"Yang ingin kita ambil bukan menyalin sistemnya secara utuh, tetapi belajar dari prinsip keberhasilannya, yaitu bagaimana petani memperoleh skala ekonomi yang lebih besar melalui pengelolaan bersama," jelasnya.

Gubernur mencontohkan hamparan sawah di Lombok Tengah yang secara fisik tampak menyatu, tetapi dimiliki oleh ratusan petani dengan luasan berbeda. "Tadi sepanjang perjalanan kita melihat hamparan sawah yang sangat luas. Secara fisik terlihat satu kesatuan, tetapi pemiliknya bisa ratusan orang. Bayangkan apabila seluruh lahan itu dikelola bersama melalui koperasi. Biaya produksi akan jauh lebih efisien dan petani memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar," katanya.

Menurutnya, melalui pendekatan tersebut petani tidak hanya memperoleh manfaat dari hasil budidaya, tetapi juga memiliki kesempatan mengembangkan usaha lain yang memberikan nilai tambah, seperti pengolahan hasil pertanian, distribusi, hingga aktivitas hilirisasi. "Pertanian kita harus bergerak dari pola yang berjalan sendiri-sendiri menuju pola kolaboratif. Dengan skala ekonomi yang lebih besar, petani akan memiliki daya saing yang lebih kuat sekaligus memperoleh nilai tambah yang lebih besar," tegasnya.

Pada kesempatan itu, Gubernur juga menyampaikan ucapan selamat kepada Willgo Zainar yang kembali terpilih sebagai Ketua HKTI NTB. Ia berharap kepengurusan baru mampu memperkuat sinergi dengan Pemprov NTB dalam mendorong transformasi sektor pertanian, penguatan kelembagaan petani, percepatan hilirisasi komoditas, serta peningkatan kesejahteraan petani di seluruh wilayah NTB.

Bagi Pemprov NTB, transformasi pertanian bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi membangun sistem pertanian yang lebih modern, efisien, dan berdaya saing. Melalui konsolidasi lahan, penguatan koperasi multipihak, hilirisasi hasil pertanian, serta kolaborasi antara pemerintah, HKTI, dunia usaha, dan lembaga keuangan, NTB menargetkan lahirnya ekosistem pertanian yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong Nilai Tukar Petani mendekati angka 150 sebagai indikator kesejahteraan petani. (NTBPost/red.)

Komentar0

Type above and press Enter to search.