Gpd8TfAlBUYoTfM6TUAlTUAlTA==

Runjani: Rumah yang Selalu Membuat Orang Ingin Kembali

Oleh: Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq

Anggota Komunitas Lari Runjani Lombok

Tidak semua orang datang ke sebuah komunitas lari untuk menjadi pelari tercepat. Sebagian ingin memperbaiki kesehatan, sebagian mencari teman seperjalanan, sebagian lagi sekadar membutuhkan ruang untuk melepaskan penat setelah rutinitas pekerjaan. Bahkan, ada yang datang sebagai orang asing di sebuah daerah baru, lalu menemukan keluarga di antara derap langkah yang sederhana. Barangkali, itulah alasan mengapa sebuah komunitas dapat bertahan lama: bukan semata karena kegemaran yang sama, tetapi karena berhasil menghadirkan rasa memiliki.


Barangkali pula, itulah yang membuat Runjani mampu bertahan hingga genap satu dekade. Tepat pada 29 Juli 2026, komunitas lari yang lahir dan tumbuh di Pulau Lombok ini merayakan usia ke-10. Bagi sebagian orang, sepuluh tahun mungkin hanyalah angka. Namun bagi mereka yang pernah menjadi bagian dari perjalanan ini, satu dekade adalah kumpulan ribuan langkah, jutaan cerita, dan persaudaraan yang terus bertumbuh melampaui garis finis.


Penulis bergabung dengan Runjani pada 2019, dua tahun setelah komunitas ini berdiri. Sejak saat itu, penulis berkesempatan menyaksikan sendiri bagaimana komunitas ini bertumbuh dari sebuah kelompok kecil menjadi salah satu komunitas lari terbesar di Nusa Tenggara Barat. Perjalanan itu bukan sekadar menghadirkan semakin banyak pelari, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah komunitas perlahan menjelma menjadi rumah bagi begitu banyak orang.


Masih teringat dengan jelas suasana latihan sore maupun malam pada tahun 2019. Kala itu, satu sesi lari biasanya hanya diikuti sekitar 20 hingga 30 orang. Suasananya akrab. Hampir semua saling mengenal. Percakapan selepas berlari berlangsung hangat, seolah setiap orang memiliki waktu untuk mendengarkan cerita satu sama lain.


Hari ini, pemandangan itu telah berubah. Dalam setiap sesi latihan, ratusan pelari memenuhi titik kumpul. Demi menjaga kenyamanan dan keselamatan, peserta bahkan dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan kecepatan lari, mulai dari pace 5 hingga pace 9. Pertumbuhan itu tentu menjadi kabar yang menggembirakan. Ia menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup, sekaligus semakin banyak orang yang menemukan ruang untuk bertumbuh bersama Runjani.


Namun, pertumbuhan selalu menghadirkan konsekuensi. Ketika sebuah komunitas menjadi semakin besar, tantangannya tidak lagi sekadar mengatur jalannya latihan, melainkan merawat kebersamaan di tengah keberagaman. Ratusan anggota datang membawa latar belakang, pengalaman hidup, karakter, cara pandang, bahkan harapan yang berbeda-beda. Menyatukan semua itu jelas bukan perkara sederhana.


Di sinilah ukuran sesungguhnya sebuah komunitas diuji. Rumah yang besar bukanlah rumah yang bebas dari perbedaan, melainkan rumah yang mampu membuat setiap perbedaan merasa diterima. Ia membutuhkan kesabaran untuk saling memahami, kerendahan hati untuk saling mendengar, serta kebesaran jiwa untuk menempatkan persaudaraan di atas ego pribadi. Sebab, semakin besar sebuah rumah, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan setiap orang tetap merasa memiliki tempat di dalamnya.


Bagi penulis, Runjani telah lama melampaui maknanya sebagai komunitas olahraga. Ia bukan lagi sekadar tempat berkumpul untuk berlari setiap sore atau akhir pekan. Runjani telah menjelma menjadi sebuah rumah, tempat orang-orang kembali, saling menguatkan, dan bertumbuh bersama.


Rumah itu dihuni oleh orang-orang dengan cerita yang berbeda-beda. Ada yang datang karena ingin menurunkan berat badan, ada yang sedang belajar mencintai gaya hidup sehat, ada yang ingin mempersiapkan diri menghadapi lomba lari, dan ada pula yang sekadar mencari teman setelah seharian bergelut dengan rutinitas pekerjaan. Semua datang dengan alasan masing-masing, tetapi pada akhirnya menemukan satu kesamaan: diterima tanpa harus menjadi orang lain.


Bagi para perantau yang bekerja di Lombok, Runjani bahkan memiliki makna yang lebih dalam. Jauh dari keluarga dan kampung halaman, mereka menemukan ruang yang membuat mereka tidak merasa sendiri. Di antara langkah-langkah yang ditempuh bersama, lahir percakapan, persahabatan, dan kenangan yang sering kali bertahan jauh lebih lama daripada masa penugasan mereka di Pulau Lombok. Ketika suatu saat harus berpindah ke kota lain, yang mereka bawa pulang bukan hanya catatan jarak tempuh atau medali dari sebuah lomba, melainkan juga kenangan tentang sebuah komunitas yang pernah menerima mereka seperti keluarga sendiri.


Barangkali karena itulah, banyak anggota yang telah meninggalkan Lombok masih terus mengikuti kabar Runjani, bahkan menyempatkan diri hadir ketika kembali berkunjung. Rumah yang sesungguhnya memang tidak selalu dibangun oleh dinding dan atap, melainkan oleh rasa diterima, dihargai, dan dirindukan.


Tanpa bermaksud mengecilkan arti komunitas-komunitas lari lain yang juga tumbuh dengan semangat luar biasa, penulis memandang Runjani memiliki kontribusi penting dalam perkembangan ekosistem lari di Pulau Lombok, bahkan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kehadirannya bukan sekadar menambah jumlah pelari, tetapi ikut membangun budaya hidup sehat, memperluas jejaring pertemanan, serta menginspirasi lahirnya komunitas-komunitas baru di berbagai daerah.


Jika mengingat kembali tahun 2019, penulis hanya mengenal beberapa komunitas lari yang aktif di Lombok, di antaranya Runjani dan RIOT Chapter Lombok. Kini keadaannya sangat berbeda. Bermunculannya komunitas-komunitas baru di berbagai kabupaten dan kota menunjukkan bahwa olahraga lari telah berkembang menjadi sebuah gerakan sosial yang semakin diminati masyarakat.


Fenomena ini patut disyukuri. Semakin banyak komunitas berarti semakin banyak ruang bagi masyarakat untuk hidup sehat, memperluas silaturahmi, dan saling menginspirasi. Pada akhirnya, komunitas-komunitas tersebut bukanlah pesaing satu sama lain, melainkan sesama penggerak yang bersama-sama membangun ekosistem olahraga lari di Nusa Tenggara Barat.


Di sinilah Runjani menemukan makna yang lebih besar. Komunitas ini bukan hanya mengajak orang berlari lebih jauh, tetapi juga mengajarkan bahwa setiap langkah memiliki arti ketika ditempuh bersama. Tidak semua orang mampu menjadi juara dalam sebuah perlombaan, tetapi setiap orang dapat menjadi sahabat yang menemani pelari lain untuk tetap melangkah hingga garis akhir.


Lebih jauh lagi, bagi penulis, Runjani adalah miniatur kecil dari semboyan bangsa Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika. Di bawah satu nama yang sama, berkumpul orang-orang dengan latar belakang yang sangat beragam. Ada yang berasal dari berbagai suku, agama, profesi, usia, dan tingkat pendidikan. Ada aparatur sipil negara, anggota TNI dan Polri, tenaga kesehatan, dosen, guru, pengusaha, mahasiswa, pekerja swasta, hingga pelajar. Di lintasan lari, semua perbedaan itu seolah kehilangan sekatnya.


Tidak ada jabatan yang lebih tinggi dari yang lain. Tidak ada status sosial yang membuat seseorang harus didahulukan. Yang terlihat hanyalah sesama pelari yang saling menyapa, saling menyemangati, dan saling menunggu ketika ada yang tertinggal. Di garis start maupun garis finis, semua berdiri dalam posisi yang sama: sebagai manusia yang sedang berusaha menjadi lebih baik dari dirinya sendiri.


Tentu, sebagaimana kehidupan pada umumnya, sebuah komunitas tidak pernah steril dari perbedaan pendapat, gesekan, ataupun dinamika hubungan antaranggota. Hal itu merupakan sesuatu yang wajar. Justru di sanalah kedewasaan sebuah komunitas diuji.


Sosiolog Jerman, Georg Simmel, pernah menjelaskan bahwa perbedaan dan konflik merupakan bagian alamiah dari kehidupan sosial. Konflik tidak selalu menjadi tanda perpecahan. Sebaliknya, apabila dikelola dengan arif, ia dapat menjadi sarana memperkuat solidaritas dan memperdalam rasa memiliki terhadap kelompok. Gagasan itu terasa relevan bagi perjalanan Runjani hari ini. Tantangan terbesar memasuki dekade kedua bukan lagi bagaimana menjadi komunitas yang semakin besar, melainkan bagaimana tetap menjadi komunitas yang semakin dewasa.


Kedewasaan itu tercermin dari kemampuan merawat kebersamaan di tengah keberagaman, mengedepankan dialog ketika muncul perbedaan, serta menjadikan keberhasilan setiap anggota sebagai kebanggaan bersama, bukan sebagai alasan untuk saling membandingkan atau berkompetisi secara tidak sehat. Sebab, komunitas yang sehat bukanlah komunitas yang bebas dari persoalan, melainkan komunitas yang mampu menyelesaikan setiap persoalan tanpa kehilangan rasa persaudaraan.


Harapan lain yang tidak kalah penting adalah agar jejak kepedulian sosial yang selama ini menjadi identitas Runjani terus dipertahankan. Rekam jejak komunitas ini menunjukkan bahwa Runjani tidak hanya hadir di lintasan lari, tetapi juga hadir ketika masyarakat membutuhkan uluran tangan. Saat Lombok dilanda gempa bumi, ketika banjir melanda sejumlah wilayah, maupun dalam berbagai aksi kemanusiaan lainnya, Runjani selalu berupaya mengambil bagian. Kepedulian seperti inilah yang membuat sebuah komunitas memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar tempat berolahraga.


Pada akhirnya, usia sepuluh tahun bukanlah garis finis, melainkan garis start menuju perjalanan yang lebih panjang. Semakin besar sebuah komunitas, semakin besar pula tanggung jawab moral yang dipikul untuk menjaga nilai-nilai yang telah membesarkannya. Jangan sampai pertumbuhan jumlah anggota justru mengurangi kehangatan yang selama ini menjadi ciri khasnya.


Kelak, orang mungkin tidak lagi mengingat siapa yang paling cepat menyelesaikan lari 5 kilometer, 10 kilometer, atau bahkan maraton. Catatan waktu akan tergantikan oleh rekor-rekor baru. Medali akan tersimpan di dalam lemari. Namun, orang akan selalu mengingat siapa yang menyambutnya ketika pertama kali datang, siapa yang berlari di sampingnya saat langkah mulai melemah, siapa yang mengulurkan tangan ketika ia hampir menyerah, dan siapa yang membuatnya merasa diterima tanpa syarat. Di situlah makna sebuah komunitas menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling mendalam.


Selamat ulang tahun ke-10, Runjani. Terima kasih telah menjadi rumah yang tidak hanya mengajarkan arti berlari, tetapi juga arti pulang. Semoga rumah ini tetap hangat bagi siapa pun yang datang, tetap inklusif bagi setiap perbedaan, dan tetap menjadi tempat yang selalu membuat orang ingin kembali. Karena pada akhirnya, komunitas yang hebat bukanlah komunitas yang melahirkan pelari-pelari tercepat, melainkan komunitas yang mampu melahirkan manusia-manusia yang saling menguatkan dalam setiap langkah kehidupan.


#DongAyoLari

Komentar0

Type above and press Enter to search.