Digitalisasi pengamprahan diet tekan kesalahan pemberian makanan dan efisiensi operasional rumah sakit
MATARAM, NTBPOST.COM — RSUD H. Moh. Ruslan Mataram mengembangkan sistem digital untuk pengelolaan diet pasien rawat inap setelah menemukan adanya pemborosan bahan makanan mencapai 45–60 porsi per hari akibat proses pengamprahan yang masih dilakukan secara manual. Sistem baru bernama DIMAS SEHAT (Digitalisasi InforMASi SistEm PengampraHan Makan Diet PAsien RawaT Inap) itu ditujukan untuk menekan risiko kesalahan pemberian diet sekaligus mempercepat pelayanan gizi.
Sebelum inovasi diterapkan, pengamprahan diet masih mengandalkan pencatatan manual dari ruang rawat inap ke instalasi gizi. Cara tersebut membuat informasi perubahan kondisi pasien tidak selalu diterima secara real time. Akibatnya, pelabelan makanan berpotensi keliru, distribusi diet kurang akurat, serta bahan makanan terlanjur diproses meski kondisi pasien telah berubah.
Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.O.G., Subsp.F.E.R., M.Kes., M.Sc., menegaskan bahwa pelayanan gizi memiliki peran penting dalam keberhasilan terapi pasien sehingga ketepatan informasi menjadi faktor yang tidak bisa ditawar.
“Pasien tidak hanya membutuhkan pengobatan yang tepat, tetapi juga asupan gizi yang sesuai dengan kondisi klinisnya. Karena itu kami membangun sistem yang mampu menghubungkan dokter, ahli gizi, perawat, bidan, dan unit penyelenggaraan makanan dalam satu alur pelayanan digital,” ujarnya di Mataram, Kamis (02/07/2026).
Ia menjelaskan, sebelum sistem berjalan, ahli gizi membutuhkan waktu sekitar 2,5 hingga 3,5 jam setiap hari untuk menyusun pengamprahan diet. Di sisi lain, perawat dan bidan masih harus menyampaikan perubahan diet secara manual di setiap waktu makan sehingga menambah beban administrasi pelayanan.
Melalui DIMAS SEHAT, seluruh proses pengelolaan diet dilakukan melalui Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Ahli gizi, perawat, maupun bidan dapat menginput jenis diet sesuai hasil asesmen gizi dan keputusan Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP). Data tersebut langsung diterima unit penyelenggaraan makanan untuk pencetakan label, penyiapan menu, hingga distribusi makanan kepada pasien.
“Ketika kondisi pasien berubah, perubahan diet juga langsung tercatat di sistem. Informasi diterima secara real time sehingga risiko kesalahan pemberian makanan dapat ditekan dan pelayanan menjadi lebih cepat,” tambahnya.
Setelah makanan disiapkan, ahli gizi melakukan verifikasi akhir untuk memastikan jenis diet yang diberikan telah sesuai dengan kebutuhan pasien. Seluruh proses terdokumentasi secara digital, termasuk laporan harian, bulanan, hingga tahunan yang sebelumnya masih disusun menggunakan dokumen fisik.
Menurut dr. Eka, implementasi DIMAS SEHAT tidak hanya meningkatkan akurasi pelayanan gizi, tetapi juga memperkuat efisiensi operasional rumah sakit. Penggunaan kertas berkurang, waktu kerja tenaga kesehatan menjadi lebih singkat, dan pemborosan bahan makanan dapat ditekan karena seluruh perubahan data pasien tercatat secara otomatis.
“Transformasi digital harus memberikan manfaat nyata. Bagi kami, keberhasilan inovasi ini diukur dari meningkatnya keselamatan pasien, ketepatan pelayanan, dan efisiensi pengelolaan rumah sakit. Pada akhirnya, setiap pasien berhak mendapatkan makanan yang tepat, tepat waktu, dan sesuai dengan kebutuhan gizinya,” tegasnya.
Melalui DIMAS SEHAT, RSUD H. Moh. Ruslan Mataram berharap pelayanan gizi tidak lagi dipandang sebagai layanan pendukung semata, melainkan menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien secara menyeluruh. (NTBPost/red.)

Komentar0