Karnaval Tenun Night Show “Srimananti: The Evolution of Heritage” tegaskan tenun sebagai identitas, pengetahuan, dan harapan masa depan.
![]() |
| Ribuan warga memadati Alunan Budaya Pringgaselaraya dalam perayaan Satu Dekade Alunan Budaya yang berlangsung meriah di Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur. Foto: Istimewa |
Malam itu, denting alat tenun berubah menjadi bahasa kebudayaan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Benang-benang yang dirajut para penenun menjadi simbol ketekunan masyarakat menjaga ingatan kolektif di tengah dunia yang bergerak semakin cepat.
Penyelenggaraan Alunan Budaya yang kini memasuki tahun kesepuluh menjadi penanda bahwa Pringgasela tidak sekadar mempertahankan tradisi. Desa ini berhasil menjadikan tenun sebagai ruang dialog antara warisan leluhur dan kreativitas masa kini. Tema The Evolution of Heritage menegaskan bahwa kebudayaan bukan benda mati yang disimpan di balik etalase, melainkan nilai yang terus tumbuh mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Ketua TP PKK NTB sekaligus Ketua Dekranasda NTB, Sinta Aghatia M. Iqbal, didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB Muhammad Ihwan, menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTB memandang kebudayaan bukan sebagai pelengkap pembangunan, melainkan fondasi yang membentuk karakter, memperkuat identitas, dan membuka peluang kesejahteraan masyarakat.
Dalam kerangka NTB Makmur Mendunia, kebudayaan ditempatkan sebagai kekuatan strategis yang mampu menggerakkan ekonomi kreatif, memperkaya pendidikan, memperkuat diplomasi budaya, sekaligus meningkatkan daya tarik pariwisata daerah. Karena itu, tenun Pringgasela tidak cukup dipahami sebagai produk kerajinan tangan, melainkan sebagai pengetahuan yang diwariskan, kreativitas yang terus berkembang, dan identitas yang membedakan NTB di tengah pergaulan dunia.
Bagi Pemprov NTB, tantangan pelestarian budaya hari ini bukan lagi memilih antara tradisi dan modernitas, melainkan mempertemukan keduanya dalam harmoni. Tradisi harus tetap menjadi akar, sementara inovasi menjadi cabang yang membuatnya terus tumbuh dan menjangkau masa depan.
Semangat itu diwujudkan melalui penyusunan Haluan Pemajuan Kebudayaan Daerah, penguatan museum, revitalisasi Taman Budaya, perlindungan objek pemajuan kebudayaan, serta kolaborasi dengan komunitas, pelaku seni, akademisi, dan pemerintah kabupaten/kota.
Pringgasela telah menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus menghapus jejak sejarah. Justru dari desa ini lahir pelajaran bahwa tradisi dapat menjadi sumber inovasi, ekonomi, dan kebanggaan masyarakat apabila dikelola secara kreatif dan berkelanjutan.
Ketika seorang penenun menggerakkan alat tenunnya, sesungguhnya ia sedang merajut lebih dari sehelai kain. Ia sedang menyambungkan kisah para leluhur dengan mimpi anak cucunya, menghubungkan identitas lokal dengan panggung dunia.
Maka, ketika malam itu para peraga busana melangkah di atas panggung Srimananti, yang sesungguhnya tampil bukan hanya motif-motif tenun yang indah. Yang hadir adalah perjalanan panjang sebuah kebudayaan yang terus bertahan, beradaptasi, dan menemukan makna baru di setiap zaman.
Dari Pringgasela, Nusa Tenggara Barat mengirimkan pesan sederhana namun mendalam: kemajuan tidak pernah lahir dengan meninggalkan akar, melainkan dengan merawatnya, menumbuhkannya, lalu memperkenalkannya kepada dunia. Ketika benang terus ditenun dengan cinta dan keyakinan, yang lahir bukan sekadar sehelai kain, melainkan masa depan sebuah peradaban yang berakar kuat pada budayanya sendiri. (*)

Komentar0