Intervensi PKMK Terbukti Klinis dan Ekonomis, Turunkan Stunting hingga 34,5% dan Hemat Biaya Pengobatan Triliunan Rupiah  

Muh. Akbar Bahar, Ph.D., Ketua Pharmacoepidemiology Research Group (PharmaEpid-RG) Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin. Foto: Istimewa

JAKARTA, NTBPOST.COM — Malnutrisi pada anak masih menjadi tantangan besar pembangunan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angka stunting di Nusa Tenggara Barat masih mencapai 29,8%. Kondisi ini menuntut perhatian serius agar cita-cita mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 tidak terhambat.  

Sebuah penelitian terbaru berjudul “A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy” yang dipresentasikan oleh Associate Professor Muh. Akbar Bahar, Ph.D., Ketua Pharmacoepidemiology Research Group (PharmaEpid-RG) Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, pada ajang ISPOR Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia, memberikan harapan baru.  

“Intervensi nutrisi PKMK atau Nutrient-Dense Formula (NDF) berpotensi menurunkan prevalensi stunting sebesar 34,5%, wasting 72,7%, dan underweight 51,7%. Jika diterapkan luas, dampaknya bisa mencegah sekitar 1,6 juta kasus stunting, 1,2 juta kasus wasting, dan 1,9 juta kasus underweight pada anak Indonesia,” jelas Muh. Akbar Bahar.  Jum'at (05/06).

Penelitian ini juga menunjukkan manfaat tambahan berupa penurunan kasus penyakit infeksi. Model yang dikembangkan memperkirakan penurunan kasus tuberkulosis (TB) sebesar 47,2% dan pneumonia 44,7%, setara dengan pencegahan sekitar 1,2 juta kasus TB dan 1 juta kasus pneumonia. Kasus ISPA dan diare diperkirakan berkurang masing-masing hingga 2,6 juta dan 2 juta kasus.  

Menurut Muh. Akbar Bahar, kebijakan nutrisi harus dipandang sebagai investasi kesehatan masyarakat.  

“Ketika seorang anak mendapatkan nutrisi memadai, manfaatnya jauh melampaui peningkatan berat badan atau tinggi badan. Risiko infeksi menurun, kebutuhan berobat berkurang, dan kualitas hidup anak menjadi lebih baik. Karena itu, intervensi nutrisi perlu dipandang sebagai investasi kesehatan masyarakat yang menghasilkan manfaat kesehatan dan ekonomi secara bersamaan,” ujarnya.  

Dari sisi ekonomi, penelitian ini memperkirakan penghematan biaya pengobatan hingga Rp2,46 triliun untuk TB, Rp3,88 triliun untuk pneumonia, Rp2,40 triliun untuk ISPA, dan Rp3,38 triliun untuk diare. Analisis menunjukkan intervensi ini memberikan manfaat kesehatan besar dengan biaya relatif rendah, hingga 7 kali lipat lebih efisien dibanding ambang batas efektivitas biaya di Indonesia.  

Founder dan Chairman Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FSRPH, menyambut positif hasil penelitian tersebut.  

“Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi nutrisi yang tepat tidak hanya berpotensi mencegah memburuknya dampak kesehatan akibat malnutrisi, tetapi juga dapat mengurangi kebutuhan biaya pengobatan di masa depan. Bukti seperti ini penting untuk mendukung pengambilan kebijakan yang lebih berbasis data dan berorientasi pada manfaat jangka panjang bagi anak-anak Indonesia. Namun, perlu diperhatikan bahwa penggunaan PKMK untuk anak stunting dan malnutrisi harus sesuai dengan peraturan yang berlaku, yang terbukti klinis dan ekonomis untuk memastikan pemberian intervensi gizi spesifik yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak Indonesia,” jelasnya.  

Ia menambahkan, hadirnya produk PKMK dalam negeri seperti SGM Eksplor Gain Optigrow menjadi inovasi penting.  

“Kita juga patut berbangga kerena memiliki produk PKMK yang diproduksi di dalam negeri yaitu SGM Eksplor Gain Optigrow yang hadir dengan inovasi untuk menjawab tantangan masalah gizi anak dalam mendukung kebutuhan nutrisi anak yang berisiko gagal tumbuh, mengalami gizi kurang, atau gizi buruk, karena dirancang khusus untuk membantu kejar tumbuh anak secara optimal. Selain itu, SGM Eksplor Gain Optigrow merupakan satu-satunya PKMK 1kkal/ml yang terbukti klinis turunkan angka stunting hingga 34,5% dan dapat menghemat biaya terapi hingga 7 kali lipat dengan proporsi TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) tertinggi mencapai 37,34%,” jelas dr. Ray Wagiu Basrowi.  

Momentum Hari Lahir Pancasila 1 Juni disebut sebagai pengingat penting untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan hak gizi merata.  

“Pemenuhan gizi yang optimal merupakan fondasi untuk mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, sehat, dan mampu bersaing menyongsong Indonesia Emas. Oleh karena itu, hadirnya inovasi solusi nutrisi PKMK seperti SGM Eksplor Gain Optigrow diharapkan dapat mendukung pemerintah dalam pemenuhan gizi anak Indonesia untuk mewujudkan Generasi Emas 2045 Bebas Stunting,” tutup dr. Ray Wagiu Basrowi.  (NTBPost/red.)