Drama audio berseri hadirkan kisah pepadu sebagai simbol keberanian dan persaudaraan Sasak
MATARAM, NTBPOST.COM — Tradisi peresean khas masyarakat Sasak Lombok kini memasuki medium baru. Warisan budaya yang selama ini identik dengan arena pertarungan rotan tersebut diangkat menjadi serial sandiwara radio bertajuk “Napas Peresean dalam Sandiwara Radio”. Program ini dirancang sebagai drama audio berseri yang menampilkan kisah kehidupan para pepadu, figur sentral dalam tradisi peresean yang sarat nilai keberanian dan solidaritas.
Produksi ini melibatkan sejumlah penulis, penyiar, hingga praktisi radio berpengalaman di Nusa Tenggara Barat. Inisiator sekaligus produser, M. Sukri ‘Ray Aruman’, menegaskan bahwa pemilihan tema dilakukan melalui riset mendalam.
“Program ini menghadirkan kisah dramatik tentang dunia para pepadu, para petarung dalam tradisi peresean yang dikenal sebagai simbol keberanian, kehormatan, dan persaudaraan. Melalui pendekatan sandiwara radio, tradisi tersebut dihadirkan kembali dalam bentuk cerita yang menyoroti sisi kemanusiaan para pelakunya,” ungkap Sukri. Senin, (30/03).
Ia menjelaskan, proses pengembangan cerita diawali dengan kajian pustaka, pengumpulan cerita lama, serta wawancara dengan sejumlah pihak yang memahami perjalanan para pepadu.
“Sebagai produser, saya membentuk tim kecil yang melakukan kajian pustaka, mengumpulkan cerita-cerita lama, dan melakukan berbagai wawancara dengan pihak-pihak yang mengetahui perjalanan hidup para pepadu,” jelasnya.
Dalam pengembangan naskah, Sukri menggandeng jurnalis senior NTB dan penulis buku, Buyung Sutan Muhlis.
“Alhamdulillah, naskah sandiwara sudah tuntas ditulis beliau dan siap produksi,” ujarnya.
Proses produksi turut melibatkan sejumlah praktisi media dan penyiar radio kondang. Dedi Suhadi dipercaya sebagai sutradara, sementara mantan Penyiar Senior RRI Mataram, Esdarita, didaulat sebagai pembawa cerita dan narator. Penggarapan pustaka musik, teknik produksi, dan montase dipercayakan kepada Zamy Sangga Firdaus, konten kreator audiovisual muda berbakat.
Sukri menilai langkah menghadirkan kembali penyiar dan pemain sandiwara radio yang pernah populer pada masa kejayaan radio di NTB sebagai bentuk penghormatan sekaligus strategi menjaga kualitas artistik.
“Dengan menghadirkan kembali para aktor suara berpengalaman, saya berharap drama radio ini memiliki kualitas artistik yang kuat sekaligus menghadirkan nostalgia bagi generasi yang pernah hidup bersama kejayaan radio,” tandasnya.
Untuk menjaring pengisi suara, tim produksi menggandeng komunitas penyiar radio seperti Tenda Siar NTB dan Radio Kita.
“Insyaallah proses audisi pengisi suara akan menghasilkan talent terbaik,” sebutnya.
Serial ini direncanakan terdiri dari tujuh episode yang mengangkat perjalanan seorang anak yang tumbuh di lingkungan peresean. Cerita akan mengeksplorasi dinamika kehidupan, mulai dari keberanian, luka, hingga makna persaudaraan dalam tradisi tersebut.
Sukri menambahkan, radio memiliki kekuatan dalam membangun imajinasi pendengar, sebagaimana era kejayaan sandiwara radio pada dekade 1980–1990-an.
“Kita ingin menghadirkan kembali pengalaman itu, tetapi dengan cerita dari Lombok, dengan napas budaya Sasak yang kuat. Sebuah drama yang bukan hanya menghadirkan pertarungan, tetapi juga menampilkan perjalanan hidup, persahabatan, rivalitas, dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Peresean,” ujarnya.
Program ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana dan LPDP.
“Dukungan ini menjadi bukti bahwa negara memberi ruang bagi inisiatif kreatif masyarakat dalam merawat warisan budaya. Bagi saya pribadi, dukungan ini bukan sekadar bantuan program. Ini adalah kepercayaan bahwa cerita-cerita dari Lombok layak untuk diangkat dan dibagikan kepada publik yang lebih luas,” imbuhnya. (NTBPost/Red.)

Komentar0