![]() |
| Info Grafik NTBPOST/AI |
NTBPOST.COM — Nyale atau cacing laut Palola viridis merupakan fenomena biologis sekaligus tradisi budaya yang mengakar di berbagai wilayah Indonesia dan Pasifik. Kemunculannya yang periodik, dipengaruhi siklus bulan dan pasang surut, telah menjadi bagian dari ritual masyarakat pesisir sejak ratusan tahun lalu.
Sebaran di Indonesia
Tradisi penangkapan nyale tidak hanya dikenal di Lombok melalui Bau Nyale, tetapi juga di sejumlah daerah lain:
- Sumbawa Barat: Pantai Kertasari, Desa Kertasari, Kecamatan Taliwang.
- Maluku: Disebut laor atau uli, muncul Maret–April di Banda Besar, Pulau Rum, dan Pulau Hatta.
- Alor (NTT): Tradisi Tewa Nale diklaim sudah ada sejak sekitar tahun 500 Masehi menurut cerita lisan.
Sebaran di Negara Lain
Palola viridis juga ditemukan di negara-negara Pasifik tropis, dengan tradisi penangkapan serupa:
- Samoa (palolo)
- Tonga
- Fiji (balolo)
- Vanuatu (Kepulauan Torres dan Banks)
- Kepulauan Solomon
- Papua New Guinea
Kemunculannya biasanya terjadi di perairan dangkal berbatu karang saat musim reproduksi tahunan.
Catatan Sejarah
Catatan tertulis pertama tentang cacing laut ini di Indonesia dibuat oleh Georg Eberhard Rumpf (Rumphius) pada abad ke-17 di Ambon, yang menyebutnya sebagai wawo. Tradisi Bau Nyale di Lombok diperkirakan sudah berlangsung sejak sebelum abad ke-16, berdasarkan Babad Sasak dan legenda Putri Mandalika.
Secara global, spesies ini pertama kali dideskripsikan secara ilmiah sebagai Palola viridis oleh George Robert Gray pada tahun 1847 dari spesimen Samoa.
Kajian Ilmiah
Penelitian menunjukkan bahwa kemunculan nyale dipengaruhi oleh kombinasi faktor endogen dan eksogen: fase bulan, pasang surut, suhu air laut, dan siklus harian matahari.
(Studi: Mahrup, Mansur Ma’shum, dan Muhamad Husni Idris, ASM Science Journal, 2021).
Kajian genetik terbaru terhadap nyale di Lombok juga menegaskan adanya variasi genetik khas, sehingga konservasi spesies ini penting untuk menjaga ekosistem laut sekaligus tradisi budaya.
(Studi: Sri Sofiati Umami dkk., OTUS Education Journal Biologi, 2024).
Kesimpulan
Nyale atau Palola viridis bukan hanya fenomena biologis, tetapi juga warisan budaya yang memperlihatkan keterkaitan erat antara ekologi laut, siklus alam, dan identitas masyarakat pesisir. Dari catatan Rumphius di Ambon hingga festival Bau Nyale di Lombok, tradisi ini terus hidup sebagai simbol kearifan lokal sekaligus daya tarik pariwisata.
(NTBPost/Red.)

Komentar0