Gpd8TfAlBUYoTfM6TUAlTUAlTA==

Longsor dan Banjir di Sembalun: Mobilitas Lumpuh, Sawah Warga Rusak

Alarm Kerusakan Ekosistem Hulu

Material lumpur yang menimpa sawah warga akibat banjir,dan longsor di jalur wisata pusuk. Foto: Istimewa
LOMBOK TIMUR, NTBPOST.COM — Jalur wisata Pusuk Sembalun kembali longsor menimbun badan jalan. Material tanah bercampur batu menutup ruas jalan sepanjang belasan meter dengan ketebalan hingga satu meter, Minggu siang (08/02). Arus lalu lintas sempat terhenti total, membuat mobilitas warga dan wisatawan terganggu.  

Pihak TNI, Polri, Satpol PP bersama pemerintah kecamatan, desa, dan masyarakat turun tangan membersihkan timbunan dengan peralatan seadanya. Sekretaris BPBD Lombok Timur, H. Rifaan, membenarkan laporan tersebut.  

"Kita mendapatkan laporan dari Camat Sembalun mengenai longsor," terangnya.  

Longsor terjadi setelah kawasan Sembalun diguyur hujan deras selama beberapa jam. Kondisi tanah di perbukitan yang lembab dan labil membuat material mudah terlepas dan menimbun badan jalan. Akibatnya, kendaraan roda empat tidak bisa melintas, sementara pengendara roda dua harus dibantu warga untuk melewati jalur yang tertutup.  

Petugas gabungan bersama masyarakat berupaya membuka akses dengan cara manual. Namun, keterbatasan alat berat membuat proses pembersihan berjalan lambat. Hingga sore hari, jalur masih belum sepenuhnya normal.  


Selain Longsor, Banjir Juga Terjadi

Selain longsor, banjir juga melanda kawasan Sembalun. Hujan deras memicu luapan Sungai Dongol yang merendam hektaran sawah warga. Material lumpur, kayu, dan sampah terbawa arus, menutup lahan pertanian dan mengancam hasil panen.  

Seorang tokoh masyarakat setempat menegaskan bahwa fenomena ini menjadi peringatan keras.  

"Fakta di lapangan hari ini seharusnya menjadi alarm keras bagi kita semua. Kerusakan lingkungan tidak lagi sekadar wacana di atas kertas, tapi sudah menghantam langsung sumber penghidupan warga," ujarnya.  

Salah seorang petani terdampak, juga mengungkapkan keresahannya atas peristiwa banjir dan lumpur yang menimpa sawahnya.

"Kami hanya ingin bertani dengan tenang. Tapi kalau di atas (bukit) dikeruk terus tanpa aturan, air dan tanahnya lari ke sawah kami. Jangan sampai kami menunggu akses jalan tertutup longsor baru semua pihak bergerak," tegasnya.  

Puluhan hektar sawah yang baru ditanami padi terendam lumpur, sementara ladang hortikultura seperti bawang putih dan cabai ikut rusak. Endapan lumpur tebal membuat warga khawatir gagal panen karena sulit dibersihkan tanpa bantuan alat berat.  

Bencana longsor dan banjir di Sembalun memperlihatkan rapuhnya ekosistem hulu. Aktivitas pengerukan di perbukitan curam tanpa vegetasi penahan membuat tanah mudah hanyut. Sungai yang menyempit akibat endapan material tidak lagi mampu menampung debit air saat hujan deras.  

Fenomena ini menjadi cermin lemahnya pengawasan terhadap aktivitas pemanfaatan lahan. Tanpa kajian lingkungan yang matang, pembangunan justru mengorbankan keselamatan publik.  (NTBPost/Red.) 

Komentar0

Type above and press Enter to search.