![]() |
| Siswa MTSN 2 Sumbawa yang berada di Empang mendapat perawatan darurat. Diduga setelah makan MBG. Foto: Dok. Fb. Jody bin Akhmad |
“Alhamdulillah, selain siswa yang kemarin sempat ditangani rawat jalan, hari ini sebagian besar siswa yang sebelumnya dirawat dengan infus juga sudah dipulangkan. Kondisi anak-anak baik dan sudah kembali bersama keluarga,” kata Dr. Aka.
Ia menambahkan bahwa masih terdapat 15 siswa yang menjalani perawatan di Puskesmas, namun kondisinya telah menunjukkan perbaikan signifikan.
“Dan masih ada 15 orang yang dirawat di Puskesmas tapi kondisinya pada hari ini sudah membaik,” lanjutnya.
Kasus tersebut terjadi setelah siswa mengonsumsi makanan MBG yang didistribusikan pada Selasa, 16 September 2025. Berdasarkan laporan teknis, proses pengolahan makanan dimulai sejak Senin (15/9) pukul 14.00 WITA dengan penerimaan bahan ayam, dimasak pada Selasa dini hari pukul 02.30, dikemas pukul 04.00, dan didistribusikan ke sekolah antara pukul 07.00 hingga 09.30 WITA.
Berikut rincian dampak di masing-masing sekolah:
- MTsN 2 Sumbawa: makanan dikonsumsi pukul 12.30 setelah distribusi pukul 09.30. Sebanyak 70 siswa terdampak, terdiri dari 49 dirawat dengan infus dan 21 rawat jalan. Gejala muncul sejak sore hari Selasa.
- MIN 3 Sumbawa: makanan dibagikan dalam dua tahap, pukul 08.30 dan 09.15. Gejala muncul sekitar pukul 11.30 WITA pada Rabu (17/9), dengan 20 siswa terdampak, terdiri dari 15 rawat jalan dan 5 observasi.
- MAN 3 Sumbawa: makanan dikonsumsi pukul 12.30 setelah distribusi pukul 09.00. Sebanyak 16 siswa mengalami keluhan serupa, dengan gejala muncul pada waktu yang sama, Rabu siang.
Dr. Aka menyampaikan bahwa sampel makanan telah diambil oleh Dinas Kesehatan untuk dilakukan uji laboratorium. Hasil uji tersebut akan menjadi dasar dalam evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi MBG.
“Program MBG adalah ikhtiar mulia untuk kesehatan dan masa depan anak-anak NTB. Karena itu, setiap kejadian harus menjadi pelajaran berharga. Satgas bersama Pemda, Dinas Kesehatan, dan BGN Regional NTB segera memperketat SOP, terutama memastikan jeda distribusi dan konsumsi tidak terlalu lama serta pengawasan keamanan pangan lebih ketat,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah, tenaga medis, dan seluruh unsur Pemda Sumbawa yang cepat tanggap dalam penanganan insiden tersebut.
“Keselamatan anak-anak adalah prioritas utama. Dengan kolaborasi semua pihak, kita pastikan program MBG tetap aman dan membawa manfaat besar bagi generasi penerus,” pungkas Dr. Aka.
Satgas MBG NTB menyatakan akan terus memantau perkembangan dan melakukan evaluasi menyeluruh agar insiden serupa tidak terulang di masa mendatang. (NTBPost/red.)

Komentar0