Gpd8TfAlBUYoTfM6TUAlTUAlTA==

Keluhan Rasa Makanan Gratis di Sekolah, Satgas MBG NTB Minta Evaluasi Dapur SPPG

Dr. H. Ahsanul Khalik (berpeci) Bersama Deputi Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional. Foto: Istimewa

Mataram, NTBPost.com  —  Ketua Tim Satgas MBG NTB, Dr. Ahsanul Khalik, menyoroti keluhan terkait kualitas rasa makanan gratis yang disalurkan melalui program SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) di sejumlah sekolah di Kabupaten Lombok Timur. Ia menegaskan bahwa rasa makanan yang tidak memenuhi standar dapat menghambat tujuan besar program ini.


Salah satu keluhan datang dari SMA Masbagik, yang sebelumnya melaporkan rasa makanan kurang memuaskan. 


“Sudah ditindaklanjuti, sekarang sudah berubah. Kemarin ada enam laporan karena sambal dan masakannya berubah,” ujar Dr. Ahsanul, saat dikonfirmasi NTBPost.com terkait banyaknya keluhan siswa terhadap menu Makan Bergizi Geratis (MBG),melalu pesan singkat whatsapp. Sabtu, (09/08).


Ia menekankan pentingnya pemetaan yang jelas terhadap jumlah sekolah penerima manfaat, mulai dari SD, SMP, hingga SMA, agar asal dapur SPPG bisa diketahui dan dievaluasi. 


“Harus jelas SD berapa, SMP berapa, dan SMA berapa, baru ketahuan asal SPPG atau dapurnya,” tambahnya.


Meski banyak sekolah berada di Kecamatan Selong, tidak semuanya mendapatkan suplai dari dapur yang sama. Ia mengingatkan potensi penyimpangan dari pihak dapur jika tidak diawasi ketat. 


“Banyak godaan kepala SPPG atau kepala dapur ini. Bisa nakal kalau tergoda,” ucapnya.


Namun, tidak semua sekolah mengalami masalah. Ia menyebut MTS Negeri 1 sebagai contoh positif. 


“Habis semua sama siswa. Saya saksikan langsung,” katanya. Meski demikian, ia mengakui ada kasus makanan yang dibuang karena kurang rasa, terutama sambal, yang menjadi keluhan umum.


Dr. Ahsanul menegaskan bahwa pihak sekolah berhak menolak makanan yang tidak layak dan harus segera berkomunikasi dengan pihak SPPG.


“Supaya tidak menjadi kebiasaan. Daripada penerima manfaat tidak mau makan, sehingga manfaat dan tujuan program tidak tercapai,” tegasnya.


Ia juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap dampak jangka panjang jika kualitas makanan tidak diperhatikan.


“Jangan sampai kita para pelaku MBG di lapangan membuat tujuan Bapak Presiden untuk mencetak Generasi Emas bangsa ini menjadi terhambat karena penerima manfaat tidak mau makan makanan yang diberikan, akibat dari rasa yang tidak memenuhi syarat dan standar atau tidak sesuai selera penerima atau siswa pada satu sekolah,” ujarnya.


Ia menambahkan, “Seperti saya katakan tadi, kalau hanya 10–20 orang dari 800 siswa, ini masalah selera. Tapi jika satu sekolah tidak suka, maka itu masalah rasa yang tidak memenuhi standar.”


Program MBG diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memperhatikan kualitas rasa agar tujuan besar mencetak generasi unggul tidak terganggu oleh hal-hal teknis yang seharusnya bisa diatasi. (NTBPost/red.)

Komentar0

Type above and press Enter to search.