195 GM Hotel se-Indonesia bahas tantangan pariwisata dan arah kebijakan
SENGGIGI, NTBPOST.COM — Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) menjelang pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke- V yang digelar di Senggigi, Lombok Barat, menegaskan fokus utama kegiatan pada pemilihan Ketua baru, penetapan program kerja 2026–2027, serta pelaksanaan kompetensi sertifikasi General Manager (GM).
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Dr. I Gede Arya Pering Arimbawa, S.Tr. Par., M.Tr. Par., M.Si., CHA, CHIA, Ketua Umum IHGMA, yang menekankan kesiapan organisasi dalam menghadirkan manfaat nyata bagi daerah sekaligus memperkuat kontribusi terhadap sektor pariwisata nasional.
“Kami ingin Senggigi kembali hidup. Kehadiran para GM ini diharapkan memberi dampak langsung sekaligus promosi positif,” ujarnya, Kamis (16/04).
Rakernas kali ini diikuti oleh 195 peserta yang merupakan General Manager hotel dari seluruh Indonesia, mewakili 26 DPD dan 16 DPC IHGMA. Kehadiran mereka di Senggigi diharapkan memperkuat jaringan, memperluas kolaborasi, serta memberikan multiplier effect bagi pariwisata NTB.
Dalam forum ini, sejumlah isu strategis menjadi sorotan, mulai dari dampak konflik geopolitik terhadap industri pariwisata, hingga kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berimbas pada tingkat hunian hotel.
“Dampaknya pasti ada. Tapi kalau dibandingkan dengan pandemi Covid-19, kondisi sekarang belum seberapa. Kita sudah punya pengalaman menghadapi krisis, sehingga lebih siap menyusun strategi,” jelasnya.
IHGMA mencatat bahwa konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah, telah menurunkan tingkat kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 35 hingga 40 persen. Kondisi ini menuntut strategi adaptif agar industri tetap bertahan dan mampu membaca peluang dari perubahan pola perjalanan global.
IHGMA menegaskan bahwa program kerja 2026–2027 akan diarahkan pada penguatan kerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait, serta peningkatan kompetensi melalui sertifikasi GM. Agenda ini ditegaskan sebagai langkah strategis untuk menjawab tantangan efisiensi pemerintah yang berdampak langsung pada industri perhotelan.
“Hotel memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi, mulai dari tenaga kerja hingga perputaran ekonomi daerah. Karena itu, dukungan pemerintah sangat kami harapkan,” tegasnya.
Selain itu, Rakernas juga menyoroti perubahan tren wisata yang didorong oleh generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha, yang dinilai menjadi pasar potensial karena kecenderungan tinggi untuk bepergian dan mengeksplorasi destinasi baru.
“Wisatawan tetap akan traveling dalam kondisi geopolitik seperti sekarang. Mereka hanya mengubah rute dan pilihan destinasi. Ini yang harus kita baca sebagai peluang,” katanya.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, peserta Rakernas juga dijadwalkan mengunjungi sejumlah destinasi unggulan di NTB, termasuk Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika dan Bukit 360, sebagai upaya memperkuat promosi NTB di tingkat nasional maupun internasional.
“NTB memiliki potensi luar biasa. Ini harus terus dipromosikan agar semakin dikenal dan diminati wisatawan,” tutupnya. (NTBPost/red.)

Komentar0