Gpd8TfAlBUYoTfM6TUAlTUAlTA==

Ekspor NTB Desember 2025 Naik 368 Persen, Impor Turun 56 Persen

Emas dan tembaga dorong lonjakan ekspor, impor didominasi karet

MATARAM, NTBPOST.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat merilis data ekspor dan impor terbaru pada Senin (2/2/2026). Ketua Tim Statistik Harga BPS NTB, Ir. Muhammad Ahyar, menyampaikan bahwa kinerja perdagangan luar negeri NTB menunjukkan tren kontras: ekspor melonjak tajam, sementara impor justru menurun signifikan.

Ekspor NTB

Nilai ekspor NTB sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai US$1.697,15 juta, turun 33,80 persen dibanding periode yang sama tahun 2024. Namun, khusus bulan Desember 2025, ekspor melonjak hingga US$633,34 juta atau naik 368,28 persen dibanding Desember 2024.

“Peningkatan ekspor ini didorong oleh naiknya komoditas non tambang, terutama emas dan tembaga hasil industri smelter,” jelas Ahyar.

Komoditas ekspor terbesar Desember 2025 adalah barang galian/tambang nonmigas (54,76 persen), perhiasan/permata (24,68 persen), dan tembaga (20,04 persen). Ekspor juga mencakup ikan dan udang (0,38 persen) serta daging dan ikan olahan (0,09 persen).

Tujuan ekspor terbesar adalah Korea Selatan (37,84 persen), Swiss (24,43 persen), India (10,26 persen), Tiongkok (9,03 persen), dan Jepang (8,76 persen).

Impor NTB

Nilai impor NTB Januari–Desember 2025 tercatat US$254,39 juta, turun 72,32 persen dibanding periode yang sama tahun 2024. Pada Desember 2025, impor mencapai US$34,21 juta, turun 56,69 persen dibanding Desember 2024.

Komoditas impor terbesar adalah karet dan barang dari karet (78,94 persen), plastik dan barang dari plastik (9,46 persen), mesin/pesawat mekanik (5,20 persen), produk kimia (3,04 persen), serta kendaraan dan bagiannya (1,52 persen).

Impor NTB pada Desember 2025 paling banyak berasal dari Jepang (73,22 persen), diikuti Thailand (9,65 persen), Tiongkok (8,72 persen), Amerika Serikat (3,75 persen), dan Singapura (3,46 persen).

Tren Perdagangan

Data ini menunjukkan bahwa NTB masih bergantung pada komoditas tambang dan hasil smelter sebagai penopang ekspor. Sementara itu, penurunan impor terutama terjadi pada barang modal, khususnya mesin dan peralatan mekanik.

“Lonjakan ekspor emas dan tembaga menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah, meski penurunan impor barang modal perlu dicermati karena bisa memengaruhi aktivitas produksi di masa mendatang,” ungkap Ahyar.

(NTBPost/red.)

تعليقات0

Type above and press Enter to search.